Senangnya bulan Ramadhan uda dekat

Tak terasa waktu begitu cepat verlalu, tak terasa kita kita akan segera memasuki bulan ramadhan. Ada yang menyambutnya dengan gembira karena merasa ini adalah momentum terbaik bagi gugurnya dosa, meningkatnya harga pahala dan tersambungnya kembali jalinan silaturahim. Bulan penuh berkah, bulan penuh rahmah, bulan kembali kepada alquran dan ibadah. Seandainya setiap bulan adalah Ramadhan.

Di sisi lain ada juga sebagian dari kita yang biasa-biasa saja menyambut Ramadhan, tidak ada yang istimewa. Padahal Rasulullah SAW, mengajarkan kita untuk berdoa agar bisa disampaikannya pada bulan ramadhan.

Ya Allah berkatilah kami di bulan Rajab, berkatilah kami di bulan Sya’ban dan ijinkanlah kami untuk bertemu dengan bulan Ramadhan. Subhanallah, itulah keistimewaan Ramadhan sampai-sampai Rasulullah meminta seperti itu. Karena kita tidak tahu, apakah masih ada umur kita sampai ke bulan penuh berkah itu?

Terkait dengan itu, adakah kita sudah mempersiapkan diri menyambutnya? Setidaknya ada beberapa persiapan yang harus kita lakukan, diantaranya: persiapan fisik (jasadiyah), mental (aqliyah), spiritual (ruhiyah), dan silaturahim.

1. Persiapan Fisik (Jasadiyah)

Puasa terkait dengan menahan makan dan minum, oleh karena itu tubuh yang sehat dan kuat sangat dibutuhkan pada bulan puasa. Sangat disarankan untuk tidak melakukan kegiatan yang membahayakan fisik kita sebelum ramadhan sehingga tidak terjadi hal-hal yang menyebabkan tubuh kita sakit dan lemah.

Pola makan kita di luar bulan puasa akan mempengaruhi fisik kita di awal Ramadhan, bagi yang tidak terbiasa berpuasa biasanya mengalami pusing-pusing. Beruntung bagi yang sudah terbiasa puasa sunnah, hanya tinggal melanjutkan kebiasaannya.

2. Persiapan Ilmu (Aqliyah)

Amal tanpa ilmu akan sia-sia. Ilmu yang terkait dengan menjalankan ibadah puasa cukup luas dan literatur bacaan mengenai puasa sudah banyak diterbitkan. Ada Fiqih Sunnah karya Sa’id Hawwa, Fiqih Puasa karya Sayyid Quthb dan masih banyak lagi. Dengan membaca buku-buku tersebut, Insya Allah pemahaman kita tentang puasa akan lebih baik dan benar.

3. Persiapan spiritual (ruhiyah)

Berapa banyak orang yang puasa hanya mendapatkan lapar dan dahaga? Itu dikarenakan puasanya tidak memiliki nilai spiritual sehingga ketika dia berpuasa pada hakekatnya hanya menahan lapar dan haus saja, tapi jiwanya tidak ikut berpuasa. Hatinya masih penuh dengki, hasad, hasud, iri, dendam bahkan pikirannya masih kotor. Seperti kita semua ketahui, puasa adalah ibadah istimewa karena memiliki nilai tarbiyah (pembinaan) langsung dari sang Khalik. Secara fisik bisa saja kita terlihat berpuasa tapi secara spiritual (ruhiyah) amat sulit menilainya, ia hanya bisa dirasakan oleh si pelaku puasa dan Allah Yang Maha Kuasa. Oleh karenanya, sangat disarankan untuk membersihkan hati kita dari berbagai macam penyakit hati. Perbanyak dzikir dan shalat sunnah, menjaga pandangan, lidah dan pikiran.

4. Silaturahmi

Salah satu keberkahan dari bulan suci Ramadhan adalah silaturahim. Sebaiknya untuk meringankan beban dosa kita terhadap sesama, mohonkanlah maaf kepada saudara, sahabat, keluarga dan rekan kita, sehingga pada saat memasuki bulan puasa diri kita menjadi lebih ringan menjalaninya.

Dari semua persiapan di atas ada satu hal penting yang harus juga kita lakukan, yaitu: manajemen waktu ibadah. Waktu ibadah di bulan suci ini harus kita siasati. 10 hari terakhir adalah waktu kita untuk i’tikaf, oleh karena itu aktivitas pada saat itu harus kita atur sedemikian rupa sehingga tidak mengganggu i’tikaf. Belanja bisa kita lakukan di awal Ramadhan, sembako bisa kita siapkan dari sekarang. Bagi pekerja yang pada saat itu masih harus bekerja dapat ber-i’tikaf di malam harinya. Jadi upayakan setiap waktu yang kita pakai di bulan Ramadhan nanti membuahkan pahala kebaikan buat kita, terjaganya ibadah kepada Allah dan makin mendekatkan diri kita kepada-Nya.

Insya Allah jika kita mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya kita akan mendapatkan hikmah dan berkah dari Ramadhan. Sudah sepatutnya kita berjuang meraih kemenangan Ramadhan. So, let’s countdown to Ramadhan (eramuslim)

MZ Omar
omar@akk.co.id

Mudharabah & Musyarakah Dalam Ekonomi Islam

PENDAHULUAN

Islam sangat menganjurkan pemeluknya untuk berusaha, termasuk melakukan kegiatan-kegiatan bisnis. Dalam kegiatan bisnis, seseorang dapat merencanakan suatu dengan sebaik-baiknya agar dapat menghasilkan sesuatu yang diharapkan, namun tidak ada seorangpun yang dapat memastikan hasilnya seratus persen. Suatu usaha, walaupun direncanakan dengan sebaik-baiknya, namun tetap mempunyai resiko untuk gagal. Faktor ketidakpastian adalah faktor yang given, sudah menjadi sunnatullah, sebagaimana Allah SWT  Berfirman

ان الله عنده علم الساعة وينزل الغيث وتعلم ما فى الارحام. وما تدرى نفس ماذا تكسب غدا.

وما تدرى باي ارض تموت. ان الله عليم خبير.

.           Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang hari Kiamat; dan Dia-lah yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok.dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana Dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.

Konsep Bagi hasil, dalam menghadapi ketidakpastian merupakan salah satu prinsip yang sangat mendasar dari ekonomi Islam, yang dianggap dapat mendukung aspek keadilan. Keadilan merupakan aspek mendasar dalam perekonomian Islam (Antonio, 2001). Penetapan suatu hasil usaha didepan dalam suatu kegiatan usaha dianggap sebagai sesuatu hal yang dapat memberatkan salah satu pihak yang berusaha, sehingga melanggar aspek keadilan.

Bahwa kegiatan-kegiatan investasi bank Islam oleh para teoritisi Perbanklan Islam membayangkan mesti di dasarkan pada dua konsep hukum : Mudharabah dan Musyarakah, atau yang dikenal dengan istilah Profit and Loss Sharing (PLS). Apakah konsep teoritisi yang ditawarkan dengan sistem Mudharabah dan Musyarakah dalam literatur fiqih dapat diaplikasikan secara murni dalam tingkat realitas?. Makalah ini hendak mencermati bagaimana konsep Mudharabah itu dikembangkan dalam fiqih dan dapat digunakan dalam Perbankan Islam.

A.    Mudharabah (Trust Financing, Trust Investasi)

1.      Pengertian

“Mudarabah” adalah jenis khusus kemitraan di mana salah satu pasangan memberikan uang kepada orang lain untuk berinvestasi di perusahaan komersial.  Investasi berasal dari mitra pertama yang disebut “rabb-ul-mal”, sementara pengelolaan dan bekerja adalah tanggung jawab eksklusif yang lain, yang disebut “mudharib”.

Mudharabah Adalah suatu pernyataan yang mengandung pengertian bahwa seseorang memberi modal niaga kepada orang lain agar modal itu diniagakan dengan perjanjian keuntungannya dibagi antara dua belah pihak sesuai perjanjian, sedang kerugian ditanggung oleh pemilik modal.

  1. Kontrak mudharabah dalam pelaksanaannya pada Bank Syariah nasabah bertindak sebagai mudharib yang mendapat pembiayaan usaha atas modal kontrak mudharabah. Mudharib menerima dukungan dana dari bank, yang dengan dana tersebut mudharib dapat mulai menjalankan usaha dengan membelanjakan dalam bentuk barang dagangan untuk dijual kepada pembeli, dengan tujuan agar memperoleh keuntungan (profit).
  2. Filosofi dasar dari mudharabah adalah untuk menyatukan capital dengan labour (Skill dan enterpreneur) yang selama ini senantiasa terpisah dalam sistem konvensional. Dalam mudharabah akan tampak jelas sifat dan semangat kebersamaan dan keadilan, Hal ini terbukti melalui kebersamaan dalam menanggung resiko kerugian yang dialami proyek dan membagikan keuntungan pada waktu ekonomi sedang booming. (Perwataatmaja, 1999)

Mudharabah lebih cocok dalam perbankan Islam dibandingkan dengan syirkah. Syirkah hanya cocok unjtuk bank apabila bank tersebut berfungsi sebagai bank partisipan yang aktiv dalam menjalankan bisnis. Bagi bank, hal tersebut tidak praktis dan merupakan tindakan pemborosan, selain melanggar peraturan perbankan. Mudharabah bukan hanya cocok dengan bak syariah , namun fungsi pokok perbankan adalah memberikan modal kepada individu atau kelompok yang ingin berusaha, dan ini adalah mudharabah (rahman 436).

2.      Landasan Syaria

Secara Umum, landasan dasar syariah Al-Mudharabah lebih mencerminkan Anjuran untuk melaksanakan usaha. Hal ini tanpak dalam ayat-ayat dan hadist berikut ini

  • Al-Qur’an

واخرون يضربون فى الارض يبتغون من فضل الله…….

”dan dari orang-orang yang berjalan dimuka bumi mencari sebagian karunia Allah SWT (Al-Muzzammil: 20)

Yang menjadi wajhud-dilalah (وجه الدلاله) atau argument dari ayat diatas adalah yang berarti melakukan suatu perjalanan usaha.

فاذا قضيت الصلاة فانتشروا فى الارض وابتغوا من فضل الله………………..

apabila telah ditunaikan shalat maka bertebaranlah kamu dimuka bumi dan carilah karunia Allah SWT…. (Al-Jumu’ah 10)

  • Al-Hadist

عن صالح ابن صهيب عن ابيه قال: قال رسول الله. ثلاث فيهن البركة البيع الى اجل والمقارضة واخلاط البر بالشعير للبيت لا للبيع……………..

Dari Shalih bin Suhaib RA bahwa Rasulullah Bersabda: tiga hal yang didalamnya terdapat kebaikan: jual-beli secara tangguh, MuQoradhah (Mudaharabah), dan mencampur Gandum dengan Gandum untuk keperluan rumah bukan untuk dijual”

  • Ijma’

Imam Zailai[1] telah menyatakan bahwa para sahabat telah berkonsensus terhadap legitimasi pengolahan harta yatim secara mudharabah. Kesepakatan para sahabat ini sejalan dengan spirit hadist yang dikutip Abu Ubaid[2]

3. Jenis-jenis Al-Mudharabah

Secara umum, Mudharabah terbagi menjadi dua jenis: Mudharabah muthalaqah dan mudharabah muqayyadah

  • Mudharabah Muthlaqah

Yang dimaksud dengan transaksi mudharabah muthlaqah adalah bentuk kerja sama antara shahibul maal dan mudharib yang cakupannya sangat luas dan tidak dibatasi oleh spesikasi jenis usaha, waktu dan daerah bisnis. Dalam pembahasan fiqh ulama seringkali mencontohkan dengan ungkapan if’al ma syi’ta (lakukanlah sesukamu) dari shahibulmaal ke mudharib yang member kekuasaan sangat besar.

  • Mudharabah Muqayyadah

Mudharabah Muqayyadah atau disebut juga dengan istilah restricted mudharabah/specified mudharabah adalah kebalikan dari mudharabah muthlaqah, si Mudharib dibatasi dengan batasan jenis usaha,waktu, atau tempat usaha. Adanya pembatasan ini seringkali mencerminkan kecenderungan umum si Shahibul-maal dalam memasuki jenis usaha.

  1. 1. Aplikasi Dalam Pembiyaan Produktif

Secara teknis, mudharabah adalah akad kerja sama usaha antra dua pihak,dimana pihak pertama (shahibul mal) menyediakan modal, sedangkan pihak lainnya menjadi pengelola. Karena sifatnya itulah mudharabah lebih praktis untuk dijalankan pada perbankan Islam dibandingkan dengan syirkah. Aplikasi mudharabah dalam perbankan syariah dapat berupa :

Pada sisi penghimpunan dana :

  • Tabungan berjangka, dimaksudkan untuk tujuan umum, yang dapat dipakai untuk usaha apa saja yang tidak melanggar syariat. Misalnya deposito biasa.
  • Deposito spesial, dimana dana yang dititipkan nasabah khusus untuk usaha tertentu saja.

Pada sisi pembiayaan :

  • Pembiayaan modal kerja, seperti modal kerja untuk perdagangan, industri atau jasa
  • Investasi khusus, dimana sumber dana khusus dengan penyaluran yang khusus dengan syarat-syarat yang telah ditetapkan oleh shahibul mal.

4.      Manfaat Mudharabah :

  • Bank akan menikmati peningkatan hasil pada saat keuntungan usaha nasabah meningkat
  • Bank tidak berkewajiban membayar bagi hasil kepada nasabah pendanaan secara tetap , tetapi disesuaikan dengan pendapatan/hasil usaha bank sehingga bank tidak mengalami negative spread.
  • Pengembalian pokok pembiayaan disesuaikan dengan cash flow sehingga tidak memberatkan nasabah.
  • Bank akan lebih selektif dan hati-hati mencari usaha yang bukan hanya sesuai dengan syariah, namun juga mempunyai prospek yang baik

5.       Permasalahan Mudharabah

Walaupun mudharabah dikatakan sebagai sesuatu yang ideal untuk perbankan Islam, dan mempunyai banyak keuntungan dan ” lebih baik” dibandingkan dengan siatem lainnya, namun ternyata mudharabah dalam kenyataaannya belum menjadi skema pembiayaan yang utama pada bank syariah. Berdasarkan data dari Internatioanl Assosiation of Islamic Bank (1996), skema mudharabah hanya diapakai sebesar 20% secara rata-rata pada bank Islam seluruh dunia. Islamic Development bank juga hanya memakai mudharabah pada sedikit poyeknya yang kecil. Kondisi perbankan syariah dalam menjalankan Mudharaba juga tidak terlihat baik. Berdasar statistik perbankan syariah pada Bank Indonesia, akad murabahah sekitar 70 persen dari total kredit. Di BRI, hampir 96 persen pembiayaan masih murabahah. Sementara di BSM, pembiayaan mudharabah mencapai 12 persen. (Republika, 19 Juli 2004).

Beberapa permasalahan yang dihadapai sehingga mudharabah menjadi kurang berkembang, diidentifikasikan natara lain sebagai berikut :

Pertama, kontrak profit loss sharing dikaitkan dengan agency problems manakala seorang pengusaha tidak mempunyai insentif untuk memberikan usaha tetapi mempunyai insentif untuk melaporkan profit yang lebih rendah dibandingkan dengan pembiayaan pribadi dari manager. Argumen ini berdasarkan ide bahwa pihak-pihak pada transaksi bisnis akan melalaikan jika mereka dikompensasi kurang dari kontribusi marginal pada proses produksi, dan manakala ini terjadi pada kasus profit loss sharing, kaum kapitalis ragu-ragu untuk berinvestasi berdasarkan basis profit loss sharing. Sebagai contoh A meminjam uang pada bank syariah AZ kemudian ia melaporkan keuntungannya pada laporan laba rugi yang usahanya lebih rendah. Sehingga, tingkat profit-loss sharing yang diberikan kepada bank lebih rendah.

Kedua, kontrak profit loss sharing membutuhkan jaminan agar dapat berfungsi secara efisien. Sedikitnya jaminan hak property pada kontrak profit loss sharing menyebabkan kegagalan adopsi karena tidak ada aturan yang melandasi. Pada praktiknya di Indonesia, jaminan hak property atas profit-loss sharing belum diatur dengan tegas dan jelas

Ketiga, perbankan Islam menawarkan risiko yang lebih kecil dari pembiayaan dibandingkan dengan perbankan konvensional. Hal ini berdasarkan konsep mudharabah dan musharakah yang dianutnya. Tetapi seringkali pelaksanaannya manajemen asset dari mudharabah dan musharakah tidak sesuai ketentuan yang berlaku. Idealnya, dana pada perbankan syariah disalurkan melalui kegiatan investasi pada asset riil. Tetapi pada kenyataannya di Indonesia, pengelolaan asset pada perbankan syariah masih terpusat pada Sertifikat Wadiah Bank Indonesia

Keempat, batasan peran investor pada manajemen dan dikotomi struktur keuangan dari kontrak profit loss sharing menimbulkan ketidak partisipasian. Mereka tidak berbagi kontrak berdasarkan partisipasi pengambilan keputusan. Disatu sisi terlihat hanya pihak manajemen yang mengelola dana sedangkan investor hanya menikmati hasilnya.

Kelima, pembiayaan ekuitas tidak tepat bagi pembiayaan proyek jangka pendek manakala dihadapkan pada tingkat risiko yang tinggi (efek diversifikasi waktu pada ekuitas). Pada kasus di Indonesia, dimana banyak pengelolaan dana perbankan syariah yang disalurkan melalui sertifikat wadiah bank Indonesia, menimbulkan risiko yang tinggi jika pembiayaan tersebut berjangka pendek dan lebih berisiko lagi jika bank syariah menyalurkan pengelolaan dana melalui Jakarta Islamic Index. (Humayon A. Dar and John R. Presley, 2001)

6.      F. Solusi

Potensi masalah yang timbul dalam pelaksanaan mudharabah agar dapat mengatasi kelemahannya dapat dilakukan dengan beberapa cara yaitu (Muljawan, 2001) :

  1. Peningkatan kualitas preferensi Mudharib dalam menerima amanah dan shahibul mal
  2. Peningkatan kualitas transparansi dalam kontrak seperti penyusunan kontrak yang lebih terperinci dan pemakaian benchmarking
  3. Penerapan standar akuntansi yang memadai

Tiga hal tersebut dijabarkan dibawah ini :

  1. Preferensi individu dalam melakukan kontrak mudharabah yang akan meningkatkan kualitas transaksi sehingga menyebabkan kontrak mudharabah menjadi optimal antara lain :

• Transparansi dalam berkontrak

• Konsep penghargaan terhadap waktu , kerjakeras dan produktifitas

• Amanah dalam mengelola modal yang diberikan

Pada mudharabah, apabila syarat tersebut diatas dapat dijalankan oleh individu, maka dapat dikatakan bahwa kontrak mudharabah tersebut dapat dikatakan menghasilkan kualtias yang terbaik. Peningkatan preferensi individu dalam konsep utility akan mengakibatkan perubahan pada proses pengembilan keputusan dalam usaha. Kualitas preferensi individu seharusnya dalam Islam menjadi suatu hal yang diunggulkan. Konsep etik moral dalam Islam, adalah konsep bagaimana suatu individu dapat berbuat sebaik mungkin dan dapat mendatangkan maslahat sebanyak mungkin. Peningkatan kualitas preferensi dapat dilakukan dengan melakukan strategic alliance dengan semua pihak yang dapat

berperan dalam menjaga nilai-nilai moral, antara lain, lembaga pendidikan ekonomi Islam, sebagai penyuplai para pelaku ekonomi yang memiliki preferensi yang baik, para ulama dan tokoh agama, lembaga pendidikan agama, dan organisasi masyarakat yang berperan dalam meningkatkan moral masyarakat. Konsep peningkatan preferensi individu ini adalah konsep bersama yang saling terkait, tidak hanya tugas bank saja, namun ini adalah tugas dari seluruh masyarakat muslim yang peduli.

  1. Peningkatan kualitas transparansi dalam kontrak mudharabah.

Akses terhadap informasi yang berimbang dapat menurunkan intensitas moral hazard serta adverse selection dalam presos penentuan transaksi yang optimal. Pembuatan kontrak yang terperinci sehingg mendorong transparansi informasi dapat menjadi satu solusi. Hal lain yang penting adalah adanya benchmarking pada semua sektor usaha. Bench marking memudahkan semua pihak untuk menyetujui kontrak lebih fair. Sebagai contoh , bila talah tersedia benchmarking untuk usaha penjualan buku, misalnya rata-rata margin keuntungan sebesar 20%, Maka benchmarkiong ini dapat menjadi acuan bagi kedua belah pihak yang berkontrak, sebagai acuan ekspected return.

  1. Salah satu syarat yang cukup menentukan keberhasilan penerapan konsep mudharabah dalam masyarakat secara luas adalah sistem akuntansi yang selain sesuai dengan konsep syariah juga harus dapat menentukan level resiko dari transaksi. Sistem aakuntansi dan keuangan yang baik dan mendorong konsep syariah akan menjadi salah satu mekanisme kontrol yang baik dalam menghasilkan kontrak mudharabah.

B.     Musyarakah (Patrnership, Project Financing Participation)

1.      Pengertian

Musyarakah adalah Kerja sama antara dua pihak atau lebih untuk suatu usaha tertentu, dimana masing-masing pihak memberikan kontribusi dana (amal/expertise) dengan kesepakatan bahwa keuntungan dan resiko akan ditanggung bersama sesuai dengan kesepakatan[3]

Penerapan yang dilakukan Bank Syariah, musyarakah adalah suatu kerjasama antara bank dan nasabah dan bank setuju untuk membiayai usaha atau proyek secara bersama-sama dengan nasabah sebagai inisiator proyek dengan suatu jumlah berdasarkan prosentase tertentu dari jumlah total biaya proyek dengan dasar pembagian keuntungan dari hasil yang diperoleh dari usaha atau proyek tersebut berdasarkan prosentase bagi-hasil yang telah ditetapkan terlebih dahulu.

2.      Landasan Syariah

  • Al-Qur’an

فهم شركاء فى الثلث…………………..

maka mereka berserikat pada sepertiga……(An-Nisa’ 12)

Ayat ini menunjukkan pengakuan Allah SWT akan adanya perserikatan dalam kepemilikan harta. Hanya saja perkongsian dalam ayat ini terjadi secara otomatis (jabr) karena waris.

  • Al-Hadist

عن ابى هريرة رفعه قال :ان الله يقول انا ثالث الشريكين مالم يخن احدهما صاحبه………………………

Dari Abu Hurairah, Rasulullah Bersabda: Sesungguhnya Allah Berfirman: Aku pihak ketiga dari dua orang yang berserikat selama salah satunya tidak menghiyanati lainnya” (HR. Abu Daud 2936, dalam kitab Al-Buyu’ dan Hakim)

Hadist qutsi tersebut menunjukkan kecintaan Allah kepada hamba-hambanya yang melakukan perserikatan selama saling menjunjung tinggi amanah kebersamaan dan menjahui penghiyanatan.

  • Ijma’

Ibnu Qudamah dalam kitabnya al-Mughni[4] telah berkata: kaum muslimin telah berkonsensus terhadap legimasi Musyarakah secara global walaupun terdapat perbedaan pendapat dalam beberapa elemen darinya.

3.      Jenis-jenis Musyarakah

Musyarakah ada dua jenis: Musyarakah pemilikan dan Musyarakah akad (Kontrak). Musyarakah kepemilikan tercipta karena warisan, wasiat, atau kondisi lainnya yang mengakibatkan pemilikan satu asset oleh dua orang atau lebih. Dalam musyarakah ini kepemilikan dua orang atau lebih berbagi dalam sebuah asset nyata dan berbagi pula dari keuntungan yang dihasilkan asset tersebut.

Musyarakah akad tercipta dengan cara adanya kesepakatan dimana dua orang atau lebih setuju bahwa tiap orang dari mereka memberikan modal musyarakah. Merekapun sepakat berbagi keuntungan dan kerugian. Musyarakah akad terbagi menjadi: al-‘inan, almufawwadhah, al-a’maal, al-wujuh dan al-Mudhrabah. Meskipun Al-mudharabah masih ada perdebatan apakah termasuk kategori Musyarakah atau tidak?

4.      Aplikasi dalam Pembiayaan Produktif

  • Pembiyaan Proyek

Musyarakah biasanya diaplikasikan untuk pembiyaan proyek dimana nasabah dan bank sama-sama menyediakan dana untuk membiayai proyek tersebut. Setelah proyek itu selesai, nasabah mengembalikan dana tersebut bersama bagi hasil yang telah disepakati

  • Modal Ventura

Pada lembaga Keuangan khusus yang dibolehkan  melakukan investasi dalam kepemilikan perusahaan, Musyarakah diterapkan dalam skema modal ventura. Penanaman modal dilakukan untuk jangka waktu tertentu dan setelah itu bank melakukan diinvestasi atau menjual bagian sahamnya. Baik secara singkat atau bertahap.

  1. 1. Manfaat Musyarakah

Terdapat banyak manfaat dari pembiyaan secara Musyarakah ini diantaranya sebagai berikut:

  • Bank akan menikmati penigkatan dalam jumlah tertentu pada saat keuntungan usaha nasabah meningkat.
  • Bank tidak berkewajiban membayar dalam jumlah tertentu kepada nasabah pendanaan secara tetap, tetapi disesuaikan dengan pendapatan /hasil usaha bank, sehingga bank tidak akan pernah mengalami negative spread.
  • Pengambilan pokok pembiyaan disesuaikan dengan cash flow/arus kas usaha nasabah, sehingga tidak memberatkan nasabah.
  • Bank akan lebih selektif dan hati-hati (prudent) mencari usaha yang benar-benar halal, aman, dan menguntungkan. Hal ini karena keuntungan yang riil dan benar-benar terjadi itulah yang akan dibagikan.
  • Prinsip bagi hasil dalam Musyarakah ini berbeda dengan prinsip bunga tetap dimana bank akan menagih penerima pembiyaan (nasabah) satu jumlah bunga tetap berapapun keuntungan yang dihasilkan nasabah, bahkan sekalipun merugi dan terjadi krisis ekonomi.

Kesimpulan

  1. Penutup

Dari pembahasan diatas kita dapat menyimpulkan hal-hal sebagai berikut :

  1. Kerja sama, baik dalam Mudharabah atau Musyarakah adalah sesuatu yang sangat dianjurkan dalam Islam agar kita dapat saling membantu dalam menanggung resiko usaha tentu yang sesuai dengan syariah
  2. Mudharabah yang termasuk salah satu jenis Kerjasama, yang saat ini memiliki banyak kendala dalam perkembangannya sehingga shahibul mal/bank enggan memakai skema kontrak ini.
  3. Nilai-nilai yang terkandung dalam Islam dapat menjadi satu keunggulan preferensi individu muslim.
    1. Saran

Potensi masalah yang timbul dalam pelaksanaan mudharabah dan Musyarakah agar dapat mengatasi kelemahannya dapat dilakukan dengan beberapa cara yaitu (Muljawan, 2001) :

1. Peningkatan kualitas preferensi Mudharib dalam menerima amanah dan shahibul mal

2. Peningkatan kualitas transparansi dalam kontrak seperti penyusunan kontrak yang lebih terperinci dan pemakaian benchmarking

3. Penerapan standar akuntansi yang memadai

Daftar Pustaka

  • Syafi’I Antonio, Muhammad (2002) “Bank Syariah dari teori kepraktek” Gema Insani Jakarta.
  • Muljawan, Dadang. 2001. Bank Syariah, Filosofi dan Operasi. Biro Perbankan Syariah Bank Indonesia
  • http://www.ekonomisyariah.org/

[1] Nasbu ar-Raiyan IV, hlm 13

[2] Kitab Al-Amwal hlm 454.

[3] Bidayatul-Mujtahid II. Hlm 253-257

[4] Abdullah Ibn Ahmad Ibn Qudamah, Mughni wa syarhi Kabir (Beirut: Darul-Fikr 1979) vol. V  hlm 109.

Distribusi Dalam Al-Qur’an

Perbedaan dalam kehidupan manusia merupakan ketetapan Allah, dengan inilah manusia manusia mempunyai peran lebih diantara makhluk lain dikehidupan ini. Disamping itu, perbedaan ini membawa pentingnya makna kerja sama antara satu orang dengan orang lain dalam memenuhi kepentingan-kepentingan hidupnya. Perbedaan merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan, yang mana karena perbedaan inilah manusia bisa menghormati satu sama lain dan juga saling menutupi satu sama lain, tetapi dengan adanya perbedaan ini bukan alasan manusia antara satu dengan yang lain untuk  melegitimasi kedudukannya dihadapan Allah SAW sebagai makhluk mulia dan hina.

Konsep Islam menjamin sebuah distribusi yang memuat nilai-nilai insani, yang diantaranya dengan menganjurkan untuk membagikan harta lewat sadaqah, infaq, Zakat dan lainnya guna menjaga keharmonisan dalam kehidupan social,  Allah berfirman dalam Al-Qur’an

Al-Baqarah Ayat 261.

Artinya: perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah[1] adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha mengetahui.

Penjelasan:

Dalam ayat diatas Allah SWT  menegaskan tentang harta yang digunakan dalam kepentingan social/kebajikan yang berhubungan dengan Agama Allah SWT baik yang diperintahkan/diwajibkan oleh Allah SWT seperti nafkah, Zakat dll atau hanya karena mengharapkan ridha Allah semata dengan menyisihkan sedikit harta seperti Infaq, waqaf, dll. Dengan itu Allah SWT memberikan perumpamaan, seperti menanam satu biji tanaman yang mengeluarkan dahan/ bercabang  tujuh cabang, yang mana dalam setiap dahan ada satu tangkai yang kemudian dalam satu tangkai terkandung didalamnya seratus biji tanaman seperti yang ditanam pertama tadi. Seperti itulah sebuah pahala atau ganjaran bagi siapapun yang bisa benar-benar ikhlas karena Allah SWT dengan menyisihkan sebagian hartanya dijalan Allah (Diinillah)[2].

Maka Allah SWT berhak melipatgandakan pahala sesuai keterangan diatas bahkan lebih dari itu kepada hamba-hambanya, maka oleh karena itu keihklasan sebuah amal baik sangat menentukan terhadap kualitas pahala yang tinggi (yang dilipatgandakan)

Allah SWT maha luas untuk menganugrahkan sebuah pahala yang berlipatganda yang kelipatannya bisa seratus kali lipat, karena kelipatan seratus ini merupakan jumlah yang sangat tinggi bagi hambanya, dan Allah SWT masih bisa menganugrahkan lebih dari itu sesuai dengan kata-kata waasi’(ìřºur).     Karena Allah SWT juga maha mengetahui kepada siapa Dia akan melipatgandakan pahala bagi hambanya.

At-taubah: Ayat 60

60. Artinya: Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, Para mu’allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yuang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.

Penjelasan:

Allah Azza wajalla dalam ayat ini menjelaskan tentang pelaksanaan konsep distribusi dalam Islam dengan membagikan harta, sesuai ketentuan yang ada dalam ayat diatas, yaitu Allah SWT telah menganugrahkan kepada sebagian hambanya dengan memilki harta yang lebih dari pada yang lainnya dan sebagai tanda syukur, ada sebagian kewajiban atau hak-hak orang lain yang dititipkan pada hamba ini, yang wajib dikeluarkan sesuai dengan ketentuan penyaluran harta (hak-hak tersebut) telah jelas ditentukan dalam ayat ini. Konsep yang sesuai dengan ayat ini adalah penyaluran Sadaqah/Zakat kepada Delapan golongan:

Seperti yang di tegaskan Allah SWT dalam ayat diatas delapan golongan itu:

  1. الفقير)) Al-Faqiir: yaitu orang yang serba kekurangan tidak punya kemampuan untuk bekerja dan enggan untuk meminta-minta seperti Ahlus-shaffah[3] pada masa Nabi.
  2. (المساكين) Al-masaakiin: yaitu orang-orang yang serba kekurangan, punya kemampuan untuk bekerja dan biasanya suka meminta-minta kepada orang lain dengan mengikuti atau lain sebagainya.[4]
  3. (العاملين) Al-‘Amiliina: orang-orang yang yang bertugas mengelola sadaqah/ Zakat, dengan mengumpulkan zakat, mencari, mencatat dan menetapkan siapa yang wajar menerima lalu menyalurkannya[5].
  4. (المؤلفة قلوبهم) Al-Muallaf: Orang-orang yang terbujuk hatinya untuk memeluk agama Islam namun Imannya masih lemah, atau orang-orang yang mepunyai pengaruh dalam agama Islam sehingga bisa mengislamkan orang kafir.
  5. (الرقاب) Ar-Riqaab: merupakan bentuk jamak dari kata رقبة raqabah yang berarti “leher” namun pada masa nabi kata ini mengalami perluasan makna, yaitu “hamba sahaya” yang tidak jarang pada saat itu hamba sahaya ini berasal dari tawanan perang yang dibelenggu tangannya dengan diikatkan keleher-leher mereka. Namun pada saat ini hamba sahaya sudah tidak berlaku lagi, yang kemudian kalangan Ulama’ Kontemporer (Mutaakhiriin) lebih memperluas Interpretasi mereka seperti Shekh Al-Azhar dan Mahmud syaltun, dengan mengarahkan argumentasi mereka terhadap wilayah-wilayah yang sedang diduduki oleh musuh dan dijajahnya, yang menurut mereka wilayah ini butuh terhadap pendistribusian zakat/sadaqah kesana[6].
  6. (الغارمين) Al-Ghaarimin: orang-orang yang terlilit hutang untuk kepentingan yang bukan maksiat dan tidak ada kemampuan untuk membayarnya. Adapun orang yang berhutang untuk memelihara persatuan umat Islam dibayar hutangnya itu dengan zakat, walaupun ia mampu membayarnya.
  7. (سبيل الله) Sabiilillah: orang-orang yang berjuang dijalan Allah baik terlibat langsung atau tidak (ikut berperan dengan menyediakan segala kebutuhan perang atau sesuatu yang berhungan dengan pertahanan keamanan), Namun ada sebagian kalangan Ulama’ tafsir (Mufassiir) yang mengarahkan pendistribusian perjuangan dijalan Allah terhadap segala kebutuhan tegaknya Agama Islam atau segala aktivitas yang menuju Ibadah, seperti menyalurkannya pada Organisasi-organisasi Islam, lembaga Pendidikan Islam, Masjid, Rumah Islam dll.
  8. (ابن سبيل) Ibn Sabiil: orang yang merantau bukan dengan tujuan maksiat dan kehabisan bekal dalam perjalananya meskipun kaya dinegaranya.  

Pendistribusian Sadaqah/ Zakat dalam hal ini lebih ditekankan kepada empat golongan pertama, untuk empat golongan selanjutnya masih tergantung kepada seberapa besar kebutuhan mereka terhadap sadakah.

Kesimpulan

Dari dua ayat diatas, yang mana keduanya berbicara tentang Sadaqah dan Zakat, maka dapat disimpulkan bahwa harta mempunyai fungsi social, fungsi tersebut ada yang ditetapkan oleh Allah SWT atas dasar kepemilikannya, seperti dalam ayat kedua, dan atas dasar persaudaraan seiman, sesama manusia sebangsa dan seagama. Sehingga dengan fungsi ini distribusi Sadaqah dan Zakat dapat meringankan kehidupan orang-orang yang memang membutuhkan baik secara langsung atau tidak. Islam tidak mengarahkan distribusi harus sama rata, akan tetapi Islam menjunjung tinggi keadilan atas dasar maslahah, antara satu dengan yang lain saling menyantuni, menghargai dan menghormati peran masing-masing. Ini semua bisa terlaksana jika masing-masing individu sadar terhadap eksistensinya dihadapan Allah SWT.


[1] Pengertian menafkahkan harta di jalan Allah meliputi belanja untuk kepentingan jihad,  menyalurkannya lewat infaq, pembangunan perguruan, rumah sakit, usaha penyelidikan ilmiah dan lain-lain.

[2] An-Nawawi “Tafsir Al-Munir “ 1 hlm 77

[3] Orang-orang yang tinggal dimasjid pada masa Rasulullah dan memang tidak punya tempat tinggal (An-Nawawi,  Tafsir Munir  jilid 1 hlm.344)

[4] Qatadah dalam Tafsir Ibn Katsir (Software laptop).

[5] As-Suyuuthi Tafsir Jalalain . (Software laptop)

[6] Quraish Shihab “Al-Mishbah” hlm 633. (Tafsir ttg ayat diatas)

Hakikat Manusia

Pendahuluan

Manusia hidup didunia ini tidak akan lepas dari yang namanya sebuah aturan, untuk menjadi Insan yang baik dan yang buruk, maka manusia yang baik yang senantiasa patuh pada perintahnya yang kadang-kadang lebih mulia daripada malaikat karena ketaqwaan kepada Allah SWT, begitu juga sebaliknya orang selalu melakukan kejelekan lebih buruk daripada setan karena kemaksiatan yang dilakukan olehnya.

Untuk menjadi manusia yang baik, tentunya tidak lepas yang namanya Undang-undang Allah SWT yang diatur dalam Al-Qur’an dan Hadist sekaligus sebagai pegangan hidup seluruh umat manusia didunia ini, meskipun pada dasarnya manusia diberi kebebasan untuk menagatur dirinya sendiri, namun kebebasan manusia itu tidak harus berlaku mutlak, karena kebebasan itu dibatasi dengan aturan-aturan Allah SWT.

Di sisi lain manusia sering acuh-tak acuh dengan Al-Quran dan hadist karena dianggapnya sebagai aturan yang kolot yang selalu kearab-arapan dan mereka lebih condong pada aturan-aturan yang tidak jelas sumbernya karena kadang-kadang sikap ini dilakukan karena sikap keikut-ikutannya pada trend masa kini yang banyak sangat bertolak belakang dengan Al-Qur’an dan hadist , sehingga sikap dan prilakunya jauh sekali dengan tuntunan Al-Qur’an dan Hadist, maka sangat diperihatinkan kalau kebanyakan insan mendukung hal ini dengan anggapan yang positif benar. Seperti dijelaskan dalam Al-Qur’an Surah An-Anfal 24.

24. Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu[1], ketahuilah bahwa Sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya dan Sesungguhnya kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan.

Kemudian Dalam Surah Al-Ashr Allah telah bersumpah demi masa bahwasannya Manusia akan tetap dalam kerugian, yaitu kerugian dalam keburukan yang tidak mengikuti aturan-aturan Allah SWT, dengan memilih jalannya sendiri, meskipun mereka sudah mengetahui bahwa apa yang mereka pilih adalah salah, Namun dalam ayat selanjutnya dijelaskan pula, bagaimana agar Manusia terhindar dari kerugian itu? Yang mana disana langkah pertama yaitu membekali diri manusia dengan rasa Iman (yaitu percaya kepada Allah, Malaikat-malaikatnya, Kitab-kitabnya, Rasul-rasulnya, Hari Qiamah dan Qada’ Qadar) untuk selanjutnya melakukan amal-amal saleh, sehingga dengan amal-amal saleh itulah hati manusia bisa terbuka untuk saling berbuat baik dan saling menyadarkan satu sama lain.

Kemudian Allah SWT juga telah mengatur undang-undang manusia untuk menjalani hidupnya untuk menjadi insan yang baik, seperti dalam firmannya yang artinya saya ciptakan manusia dan Jin hanya untuk menyemabah kepadaKU, seluruh aspek kehidupan manusia telah diatur didalamnya sebagai jalan untuk menjadi insan yang baik, yang semata-semata hidup hanya karena mencari ridlonya. Mulai dari bangun tidur, mandi, shalat dan lain-lain, namun itu semua tidak luput dari pemantapan Iman terlebih dahulu supaya sang Manusia mengetahui kepada siapa Manusia harus mempercayakan Ibadahnya, yang hanya semata-mata kepada Allah SWT, dan hal ini sering juga disebut-sebut Manusia beribadah dalam melakukan shalat lima bahwasannya Shalat, Ibadah dan hidup serta mati manusia hanya untuk Allah SWT.

Maka dari itu dalam makalah ini akan dijelaskan hakikat Manusia dan apa yang harus diperbuat Manusia agar tidak tetap dalam kerugian, seperti dalam surah Al-‘ashr yang akan dibahas secara rinci dalam makalah ini, semoga bermanfaat Amiiin… ya rabbal’alamiin…….

Manusia.

  1. A. Tafsir
    1. Tentang Sumpah

Surah ini termasuk golongan Makkiyah yang diturunkan sesudah surah Asy-Syarh dan terdiri dari tiga ayat. Sayyid Quthb memahami aspek i’jazul Qur’an yang ketara pada surah pendek ini yang memang merupakan keistimewaan Al-Qur’an. Sebagai contoh misalnya, irama surah ini menunjukkan satu keserasian dimana pada akhir setiap ayatnya ditutup dengan huruf “ra”. Susunan redaksinya juga indah; berawal dari yang terpendek hingga yang terpanjang. Hanya dalam tiga ayat, tergambar dengan gamblang manhaj dan rambu-rambu kehidupan manusia yang dikehendaki oleh Islam yang berlaku sepanjang zaman dan pada setiap generasi. Memang hanya ada satu manhaj dan jalan keselamatan dari kerugian seperti yang dirumuskan dalam surah ini, yaitu iman, amal shalih, saling menasehati dalam mentaati kebenaran dan saling menasehati dalam menetapi kesabaran.

Berkata al Imam as Syaafi`ie rahimahullahu Ta`ala : “Kalau tidaklah Allah menurunkan satu hujjah atas makhluq-Nya, kecuali surah Al `Ashr ini sudah cukup menjadi hujjah bagi mereka”[1]

Surah ini diawali dengan sumpah. Sumpah Allah dengan salah satu makhluknya yang terpenting yang menentukan kehidupan manusia, yaitu waktu, baik seluruhnya maupun sebagiannya. Dalam satu “masa” terdapat beberapa keadaan; sakit dan sehat, suka dan duka, demikian seterusnya saling berpasangan. Bahkan dalam sebuah ‘waktu’ tersimpan segala jenis peristiwa dan kejadian. Karena keagungan waktu inilah maka Allah bersumpah dengannya. Dan memang Allah berhak bersumpah dengan apapun yang dikehendakinya dari seluruh makhlukNya, sedangkan manusia hanya boleh bersumpah dengan Allah dan nama-nama atau sifatNya yang mulia.

Terdapat banyak pemahaman para ulama tentang maksud ‘Al-Ashr’ yang menjadi sumpah Allah dalam surah ini. Hasan Al-Bashri berpendapat bahwa yang dimaksud dengan ‘Al-Ashr’ adalah waktu petang, karena pada waktu inilah berakhirnya segala aktifitas manusia, sehingga tinggal menghitung untung dan rugi dari apa yang telah dilakukannya semenjak pagi hingga waktu petang. Dalam konteks waktu, sebagian ulama menyimpulkan bahwa biasanya Allah bersumpah dengan waktu dhuha dalam konteks keberuntungan dan dengan waktu petang dalam konteks kerugian.

Makna lain dari kata ‘Al-Ashr’ yang masyhur adalah sholat Ashar. Shalat Ashar merupakan sholat yang utama dan diperintahkan khusus oleh Allah untuk dipelihara dan dijaga melalui firmanNya: “peliharalah oleh kalian shalat-shalat kalian dan shalat wushtho, yaitu sholat Ashar”. (2: 238). Bahkan Rasulullah bersabda mengagungkan shalat yang satu ini dalam salah satu haditsnya: “Barangsiapa yang tertinggal shalat Ashar, maka ia seolah-olah kehilangan keluarga dan hartanya”. Dalam riwayat lain dinyatakan: “maka sia-sialah semua amalnya”. (Diriwayatkan oleh Bukhari, Muslim, Abu Daud dan Imam Ahmad). Disini Al-Biqa’i menemukan korelasi yang indah antara lafadz ‘insan’ yang merupakan sebaik-baik jenis makhluk Allah yang diciptakan dalam sebaik-baik kejadian (bentuk) dengan lafadz “Ashr” yang merupakan waktu pilihan, ibarat minuman jus yang dipilah dan diperas dari buah yang segar yang diistilahkan dalam bahasa Arab ‘Ashr.

  1. Manusia dalam Kerugian

Secara redaksional, bentuk nakirah (indifinitive) pada lafaz “khusr” menunjukkan besarnya kerugian yang akan diderita oleh setiap manusia dan juga untuk menghinakan manusia yang menderita kerugian tesebut, karena kerugian itu meliputi kebinasaan diri dan usianya. Atau bentuk nakirah juga menunjukkan umumnya kerugian tersebut. Seperti yang dinyatakan oleh Al-Alusi bahwa kerugian yang disebut oleh ayat bersifat umum mencakup segala jenis kerugian; duniawi maupun ukhrawi. Seperti kerugian dalam perniagaan, kerja-kerja manusia maupun pemanfaatan usia yang akan dimintai pertanggung jawaban oleh Allah swt. Apalagi bahwa pernyataan Allah tentang kerugian setiap manusia dalam ayat ini diperkuat dengan dua huruf ta’kid (penegasan), yaitu Inna yg berarti sesungguhnya dan La yg berarti benar-benar.

Keumuman ayat kedua dapat difahami dari lafadz ‘insan’ yang didampingi oleh alif dan lam yang menunjukkan makna yang umum. Meskipun ada yang berpendapat bahwa yang dimaksud dengan ‘manusia’ pada ayat ini adalah segolongan orang kafir seperti Al-‘Ash bin Wa’il, Al-Walid bin Al-Mughirah dan Al-Aswad bin Abdul Muthalib bin Al-Asad, namun tetap umumnya lafadz lebih kuat daripada khususnya ayat yang terbatas pada mereka yang telah menerima kerugian. Sehingga siapapun tanpa terkecuali tidak akan bisa terlepas dari kerugian melainkan jika ia berpegang teguh dengan ajaran yang terkandung pada ayat terakhir surah ini, yaitu iman, amal shalih dan saling menasehati untuk menepati kebenaran serta saling menasehati dalam kesabaran.

  1. Tentang keImanan.

Iman dan amal shalih yang menjadi syarat pertama keluar dari kerugian merupakan dua hal yang saling terkait, ibarat dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan. Artinya tidak berguna dan akan mati iman seseorang tanpa amal shalih, begitu sebaliknya sia-sialah amal shalih yang tidak berlandaskan iman. Dari iman berasal setiap cabang kebaikan dan dengannya terkait setiap buah kebaikan. Oleh karena itu, Al-Qur’an dengan tegas menghancurkan nilai seluruh amal perbuatan, selagi amal perbuatan itu tidak didasarkan pada iman yang menjadi pendorong dan penghubung dengan Sang Maha Wujud. “Dan orang-orang yg kafir, amal perbuatan mereka adalah laksana fatamorgana di tanah yg datar, yg disangka air oleh orang yg dahaga, tetapi bila didatanginya air itu, dia tdk mendapatinya suatu apapun”.(AN-Nur: 39). Secara impelementatif, Iman adalah gerak dan amal, pembangunan dan pemakmuran menuju Allah. Ia bukan sesuatu yang pasif, layu dan bersembunyi di hati nurani. Juga bukan sekedar kumpulan niat yang baik yang tidak tercermin dalam bentuk perbuatan & gerak.

Iman adalah hubungan wujud insan yang fana dan terbatas dengan asal yang mutlak dan azali serta abadi yang menjadi sumber semesta. Karena itu, berhubungan dengan wujud yang berasal dari sumber itu, aturan-aturan yang mngatur alam semesta ini dan fotensi-fotensi yang tersimpan didalamnya. Dengan demikian, ia bisa terlepas dari lingkungan dirinya sendiri yang kecil ke lapangan semesta yang besar. Juga dari kekuatannya yang kecil kepada fotensi-fotensi alam yang tak diketahui dan dari keterbatasan usianya kepada masa berabad-abad yang hanya diketahui oleh Allah SWT.

Keutamaan iman dan kedudukannya yang agung, seakan-akan hal ini menjadi hal yang dimulai dengannya dan dijadikan sebagai kewajiban yang pertama atas makhluk. Dari Abu Hurairah radhiallahu `anhu bahwa Nabi Shollallahu `alaihi wa Sallam bersabda :

لا تَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّى تُؤْمِنُوا وَلَا تُؤْمِنُوا حَتَّى تَحَابُّوا أَوَلا أَدُلُّكُمْ عَلَى شَيْءٍ إِذَا فَعَلْتُمُوهُ تَحَابَبْتُمْ؟ أَفْشُوا السَّلَامَ بَيْنَكُمْ

Tidak akan masuk kalian ke dalam surga sampai kalian beriman, dan tidak akan beriman kalian sampai kalian saling cinta-mencintai, apakah mau kalian saya tunjukkan akan sesuatu apabila kalian kerjakan kalian akan saling cinta-mencintai ? Sebarkanlah salam sesama kalian”[2]

Lebih dari itu, hubungan iman dengan wujud insan ini memberikan kepadanya kekuatan, perkembangan, dan kebebasan. Karena, disamping semua ini, iman memberikan kesenangan terhadap wujud semesta dengan segala keindahan yang terkandung didalamnya. Juga dengan semua makhluk yang ruhnya berlemah lembut dan saling berkasih sayang dengan ruhnya sendiri. Dengan demikian, kehidpan adalah sebuah wisata dalam festival Ilahi yang memberikan posisi kepada manusia dalam semua tempat dan kesempatan.

Kehidupan imani adalah suatu kebahagiaan yang tinggi dan kegembiraan yang indah. Ia juga merupakan kemesraan terhadap kehidupan dan alam semesta ini seperti kemesraan seseorang dengan kekasihnya. Karena itu, kehidupan imani ini adalah sebuah keberuntungan yang tiada bandingannya pula. Pasalnya, unsure-unsur iman itu sendiri merupakan unsure-unsur kemnusiaan yang tinggi dan mulia.

Selain itu, rasa ketuhanan akan meninggikan perasaan manusia untuk beriman dengan nilai manhaj-Nya. Kemudian ia mengunggulkannya atas pola pandang jahiliah, tata nilai dan norma-normanya. Juga atas semua tata nilai yang dikembangkan dari ikatan-ikatan dunia nyata walaupun ia hanya seorang diri yang bersikap begitu. Karena ia menghadapi semuanya dengan pola padang, tata nilai dan norma-norma yang bersumber dari Allah secara langsung. Karena itu, apa yang dari Allah SWT inilah nilai yang lebih tinggi, lebih kuat, serta lebih patut diikuti dan dihormati[3].

Iman merupakan pokok kehidupan yang besar, yang menjadi sumber segala cabang kebaikan dan menjadi tali pegantungan buah-buahnya. Kalau kebaikan tidak bersumber pada iman, maka ia merupakan cabang yang terputus dari batangnya, yang akan layu dan kering. Kalau tidak begitu, yang ada hanyalah system setan yang tidak memiliki keteguhan dan kelanggengan.

Iman adalah manhaj yang menyatukan berbagai macam amal dan perbuatan. Ia mengembalikannya kepada system yang sesuai dengannya, Saling membantu dan berjalan bersamanya pada satu jalur. Semua itu melakukan dalam gerakan yang sama, dengan motivasi yang sudah dimaklumi dan dengan tujuan yang pasti.

Karena itu, Al-Quran mengabaikan setiap amalan yang tidak berpedoman pada prisip ini, tidak bertambat padab pelabuhan ini dan tidak bersumber dari manhaj ini. Pandangan islam sudah sangat jelas dan tegas mengenai semua persoalan ini. Al-Quran mengatakan dalam surat Ibrahim ayat 18

Artinya: Orang-orang yang kafir kepada Tuhannya, amalan-amalan mereka adalah seperti Abu yang ditiup angin dengan keras pada suatu hari yang berangin kencang. mereka tidak dapat mengambil manfaat sedikitpun dari apa yang telah mereka usahakan (di dunia). yang demikian itu adalah kesesatan yang jauh.

Dan Allah juga berfirman dalam surat An-Nur ayat: 39

Artinya: Dan orang-orang kafir amal-amal mereka adalah laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu Dia tidak mendapatinya sesuatu apapun. dan didapatinya (ketetapan) Allah disisinya, lalu Allah memberikan kepadanya perhitungan amal-amal dengan cukup dan Allah adalah sangat cepat perhitungan-Nya[1042].

Orang-orang kafir, karena amal-amal mereka tidak didasarkan atas iman, tidaklah mendapatkan Balasan dari Tuhan di akhirat walaupun di dunia mereka mengira akan mendapatkan Balasan atas amalan mereka itu.

Iman adalah indikasi yang menunjukkan sehatnya fitrah dan selamatnya eksitensi mausia. Juga menunjukkan keselarasnya dengan fitrah alam semesta, dan adanya intraksi manusia dengan alam sekitarnya. Ia hidup dialam semesta dan eksitensinya berinteraksi dengan alam ini. Interaksi itu harusnya berujung pada iman, merupakan indikasi-indikasi dan isyarat-isyarat dialam semesta yang menunjukkan adanya kekuasaan mutlak yang telah menciptakannya dengan keserasian dan keselarasannya. Apabila interaksi ini hilang tau terabaikan, maka hal itu sudah menunjukkan rusak dan tidak sempurnanya perangkat yang digunakan untuk berinteraksi. Yakni, eksitensi manusia itu sendiri yang berpedoman pada pola pikir yang salah. Ini sekaligus sebagai indikasi yang menunjukkan kepada kerusakan yang membawa kerugian. Tidak sah amalan yang dilakukannya meskipun scara lahiriah yang bersentuhan dengan kebaikan.

Dunia orang beriman itu luas, lengkap, lapang, tinggi, indah dan membahagiakan, sedangakan, dunia orang non mukmin tampak kecil, kerdil, rendah, hina, membingungkan, menyengsarakan dan merugikan.

  1. Amal saleh

Kemudian setelah Iman ada Amal shaleh yang mana amal shaleh ini merupakan buah alami dari iman dan gerakan yang didorong oleh adanya hakikat iman Yang mantap didalam hati. Jadi, iman mrupakan hakikat yang aktif dan dinamis. Apabila sudah mantap dalam hati , maka ia akan berusaha merealisasikan diri diluar dalam bentuk amal saleh. Inilah iman islami yang tidak mengkin stagnan (berhenti) tanpa bergerak, dan tidak mungkin hanya bersembunyi tanpa menampakkan diri dalan bentuk yag hidup diluar diri orang  yang beriman. Apabila ia tidak bergerak dengan gerakan yang otomatis ini, maka iman itu palsu atau telah mati. Keadaannya seperti bunga yang tidak dapat menambah bau harumnya. Ia menjadi sumber otomatis. Kalau tidak berarti ia tidak ada wujudnya.

Amalan sholih yaitu setiap perkataan atau perbuatan yang mendekatkan diri kepada Allah Jalla wa `Alaa. Hendaklah orang yang mengerjakannya semata-mata ikhlash karena Allah `Azza wa Jalla dan mengikuti Muhammad Shollallahu `alaihi wa Sallam. Dan kecenderungan amalan sholih masuk kepada iman dikarenakan dengan menaruh perhatian yang sungguh dengan beramal sholih. Hal ini sebagai bentuk penegasan bahwa pembenaran dengan hati tidak bermanfaat tanpa diiringi dengan amalan[4]

Dalam ayat diatas ayat 3 dijelaskan seling keakraban dalam menjalani kehidupan yaitu dengan saling menasehati untuk menaati kebenaran dan bersabar seperti terlukis dalam keberadaan umat Islam dengan bentuk yang khas, ikatannya yang istimewa, dan arahnya yang sama. Yakni, umat yang merasakan keberadaannya sebagaimana kewajibannya. Juga mengerti hakikat sesuatu yang harus diutamakan, yang bersumber dari iman dan amal saleh, yang meliputi masalah kepemimpinan manusia dijalan iman dan amal saleh. Lantas, saling menasehati dengan nasehat yang dapat membangkitkan semangatnya untuk mengemban amanat terbesar ini[5].

  1. Saling Menasihati

Saling menasihati untuk menaati kebenaran dan menetapi kesabaran ini terlukis dalam keberadaan umat Islam dengan bentuknya yang khas, ikatannya yang istimewa dan arahnya yang sama. Yakni, umat yang merasakan keberadaannya sebagaimana mereka merasakan kewajibannya, juga mengerti hakikat sesuatu yang harus diutamakan, yang bersumber dari iman dan amal saleh yang meliputi masalah kepemimpinan manusia dijalan iman dan amal saleh. Lantas, saling menasihati dengan nasihat yang dapat membangkitkan semangatnya untuk mengemaban amanat terbesar ini.

Dari celah-celah lafadz tawaashi’ saling menasihati dengan makna, tabi’at dan hakikatnya, tanpaknya potret umat yang kompak dan saling bertanggung jawab. Umat pilihan, umat yang baik, umat yang penuh pengertian, dan umat yang bermutu dimuka bumi dengan berpegang pada dan menegakkan kebenaran, keadilan dan kebaikan, ini merupakan gambaran paling tinggi dan paling indah bagi umat pilihan. Demikianlah yang dikehendaki Islam terhadap umatnya. Ia menghendaki umat Islam sebagai umat terbaik, kuat, penuh pengertian, tanggap, sensitif terhadap kebenaran dan kebaikan, dan saling menasihati untuk menaati kebenaran dan menatapi kesabaran. Semuanya dilakukan dengan penuh kasih sayang, penuh solidaritas, tolong menolong dan penuh rasa persaudaraan yang selalu disiram dengan “Tawaashi” dalam Al-Qur’an. “Saling menasihati untuk menasihati kebenaran” ini adalah sesuatu yang sangat vital. Karena , melaksanakan kebenaran itu sulit dan hambatannya banyak, seperti hawa nafsu, logika kepentingan, pola pikir lingkungan, kedzaliman penguasa, kedzaliman orang-orang yang zalim, dan penganiyaan para penyeleweng, Tawaashi adalah mengingatkan, member semangat, menyadarkan betapa dekatnya tujuan dan sasaran yang hendak dicapai dan mengingatkan akan perlunya persaudaraan didalam memikul beban dan mengemban amanat.

Dengan demikian, ia akan menambah dan menguatkan arahan dan kesadaran pribadinya, akan saling meningkatkan dan menguatkan, dan akan timbul kerja sama yang baik. Juga akan menambah sensitivitas terhadap setiap penjaga kebenaran bahwa disamping dirinya terdapat juga orang lain yang selalu member nasihat kepadanya, member semangat kepadanya. Agama Islam ini yang notabene adalah kebenaran, tidak akan dapat tegak berdiri kecuali dengan penjagaan umat yang bekerja sama, tolog-menolong, bantu membantu, saling menjamin dan saling bertanggung jawab untuk melaksanakan tugas-tugas seperti ini[6]. “Saling berpesan untuk mnertapi kesabaran” juga merupakan sesuatu yang vital. Karena, menegakkan dan amal saleh, dan menjaga kebenaran dan keadilan, merupakan sesuatu yang amat sulit yang dihadapi oleh perorangan dan jamaah. Karena itu, diperlukan kesabaran untuk berjihad melawan hawa nafsu dan berjihad terhadap orang lain yang memusuhi kebenaran. Sabar didalam menghadapi gangguan dan penderitaan, gelombang kebathilan dan merebaknya kejahatan, serta menempuh jalan yang panjang. Juga sabar terhadap lambatnya pencapaian tahapan-tahapannya, redupnya rambu-rambu dijalan, dan jauhnya ujung jalannya.

Saling berwasiat untuk bersabar ini akan dapat meningkatkan kekuatan. Karena, dapat mengbangkitkan kesadaran akan kesamaan tujuan, kesatuan arah, dan saling mendukungnya antara yang satu dan yang lain dan membekali mereka dengan kecintaan, keteguhan, dan kebersambungan. Juga dengan lain-lain makna jamaah yang hakikat Islam tidak dapat hidup kecuali dari celah-celahnya. Kalau tidak demikian, maka yang ada hanya kerugian dan kesia-siaan.

Kemudian Seakan-akan Allah Ta`ala telah menjadikannya sebagai salah satu sifat yang tidak akan dicapai  satu keberhasilan kecuali dengannya. Dan pada ayat ini ada motivasi untuk berdakwah kepada Allah Ta`ala, bagaimanapun seorang da’i mendapatkan kesusahan dan gangguan. Dari Ibnu `Umar radhiallahu `anhuma bahwa Nabi Shollallahu `alaihi wa Sallam bersabda :

الْمُؤْمِنُ الَّذِي يُخَالِطُ النَّاسَ وَيَصْبِرُ عَلَى أَذَاهُمْ أَعْظَمُ أَجْرًا مِنْ الْمُؤْمِنِ الَّذِي لَا يُخَالِطُ النَّاسَ وَلَا يَصْبِرُ عَلَى أَذَاهُمْ

Seorang mukmin yang berbaur dengan manusia, dan sabar terhadap gangguan mereka, lebih besar ganjarannya daripada seorang mukmin yang tidak berbaur dengan manusia, dan dia tidak sabar terhadap gangguan mereka”.[7]

Ayat yang terakhir dan terpanjang dalam surah ini merupakan gambaran kepedulian seorang mukmin dengan saudaranya tentang kebaikan. Saling berpesan dalam kebenaran tentu sangat diperlukan, karena melaksanakan kebenaran itu butuh bantuan orang lain. Saling berpesan berarti mengingatkan, memberi dukungan, memotivasi dan menyadarkan. Dan seseorang tidak akan mungkin mampu melaksanakan kebenaran dan kebaikan yang sempurna secara personal, tanpa keterlibatan orang lain. Demikian juga saling berpesan dengan kesabaran sangat diperlukan karena akan bisa meningkatkan kemampuan, semangat dan perasaan kebersamaan. Apalagi dalam meyakini, menjalankan dan menyeru kebenaran tadi bisa jadi akan menghadapi hambatan, rintangan dan tantangan dalam beragam bentuknya. Dalam riwayat Al-Hakim disebutkan, “Kesabaran adalah setengah dari (realisasi) iman seseorang”. Disinilah urgensi kepedulian seorang mukmin dengan suadaranya dalam dua hal yang saling berkaitan; kebenaran dan kesabaran.

Yang menarik untuk dicermati mengenai tafsir surah ini adalah pendapat Al-Wahidi dalam kitab tafsirnya Al-Wajiz fi Tafsir Al-Kitab Al-Aziz. Beliau mengemukakan secara spesifik contoh mereka yang telah mendapat kerugian dan keberuntungan berdasarkan urutan dalam mushaf. Abu jahal merupakan representasi dari orang yang merugi. Abu Bakar merupakan sosok yang sesuai dengan implementasi iman. Umar bin Khattab mewakili orang-orang yang beramal shalih. Utsman bin Affan merupakan contoh nyata dari mereka yang saling menasehati dalam kebenaran dan Ali bin Abi Thalib identik dengan golongan yang saling menasehati dalam kesabaran. Lebih lanjut As-Syanqithi dalam tafsir ‘Adhwa’ul Bayan mengemukakan Mafhum mukhalafah dari setiap ajaran dalam surah ini; mafhum mukhalafah dari keberuntungan adalah kerugian, yaitu tdk beriman (kafir), tidak beramal atau beramal buruk, tidak berpesan dengan kebenaran atau berpesan tetapi dengan kebatilan serta tidak berpesan dengan kesabaran atau senantiasa berkeluh kesah.

Sungguh setiap kita mendambakan kesuksesan, keberuntungan dan kebahagiaan di dunia dan di akhirat kelak. Tidak ada jalan dan manhaj lain melainkan mengamalkan kandungan surah ini secara totalitas seperti yang pernah dicontohkan oleh para sahabat Rasulullah saw. Disebutkan bahwa tidaklah dua orang sahabat Rasulullah bertemu, melainkan salah seorang dari keduanya akan membacakan surah ini sebelum berpisah, kemudian saling mengucapkan salam dan saling berjanji serta berkomitmen untuk tetap berpegang teguh dengan iman dan beramal shalih, saling berjanji untuk senantiasa berpesan dengan kebenaran dan dengan kesabaran dalam menjalani kehidupan mereka.

  1. B. Korelasi Ayat…
  2. Kata `»|¡SM}$#
  • Surah Al-‘Alaq ayat 2, 5 dan 6

t,n=y{ z`»|¡SM}$# ô`ÏB @,n=tã ÇËÈ

Ayat menjelaskan tentang penciptaan Manusia dengan kemuliaan yang melebihi kodradnya. Diantara kemuliaan yang diberikan Allah SWT kepada manusia ialah Dia telah meningkatkan tingkat darah yang melekat di dinding ini ketingkatan sebagai manusia yang memiliki potensi untuk mengetahui sesuatu[8]. Hubungan dengan ayat diatas adalah masalah derajad kemuliaan yang akan Allah Berikan adalah salah satunya kepada orang-orang yang beriman.

zO¯=tæ z`»|¡SM}$# $tB óOs9 ÷Ls>÷ètƒ ÇÎÈ

“..mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahui…”

Disinilah tanpaknya hakikat penurunan ayat yang pertama, yang pertama oleh hati Rasulullah saw. Pada saat pertama. Inilah yang mengubah perasaan dan bicaranya. Juga mengubah pengetahuan dan arahnya sesudah itu sepanjang hidupnya, dengan menyifatinya sebagai kaidah Iman yang pertama[9]. Maka dari sini bisa dikorelasikan dengan ayat diatas bahwa Manusia harus mempunyai Iman, baik itu untuk pengetahuan ataupun Intraksi sosial seperti ayat diatas. 

Hxx. ¨bÎ) z`»|¡SM}$# #ÓxöôÜuŠs9 ÇÏÈ

Setelah Allah menciptakan, memuliakan dan mengajari manusia, akan tetapi, secara umum, kecuali orang yang terpelihara oleh imannya, tidak mau bersyukur ketika diberi nikamt. Lantas, dia merasa dirinya serba cukup, dan tidak mengetahui sumber nikmat dan kecukpan itu, padahal Allahlah sumber semua itu kemudian memberi rizki, hanya saja manusia yang melampaui batas dan sombong lupa akan nikmat Allah SWT[10].

Korelasi ayat ini adalah ketika ketikan Iman manusia tidak terpelihara maka manusia akan tetap dalam kerugian karena lupa akan nikmat yang diberikan Allah SWT.

  • Surah Al-Fajr Ayat 15 dan 23

Dalam ayat ini Allah SWT Menguji Manusia dengan kelapangan dan kesempitan kekayaan dan kemiskinan yang menjdi ujian bagi manusia itu sendiri, dan mereka yang tahan dengan ujian itu beranggapan bahwa Allah akan memuliakan mereka.

Korelasinya adalah hampir sama dengan korelasi ayat-ayat sebelumnya bahwa Manusia untuk mendapatkan derajat kemuliaan harus ada ujian dahulu.

pada itu ingatlah……

Manusia yang dulunya lalai terhadap hikmah ujian (ada pada ayat korelasi sebelumnya) yang berupa dan kesempitan kelapangan rizki serta kedudukan. Manusia yang mendapatkan harta dengan cara yang bathil, dan cinta kepada duniawi serta berbuat sewenang-wenang dengan meremehkan aturan Allah SWT, meskipun sebenarnya mereka mengetahui bahwa itu ujian. Maka pada hari itu (hari Qiamat mereka menyadari kebenaran dan hendak mengembil pelajaran dari apa yang dilihatnya akan semuanya sudah terlambat.

Korelasinya adalah Inilah balasan bagi orang-orang yang menetapi kerugian tanpa mengindahkan iman dan juga enggan beramal shale.

  • Surah At-Thaariq ayat 5.

Hendaklah manusia sadar dan memperhatikan, dari apa dia diciptakan dan kemana dia harus kembali. Dia diciptakan dari air yang terpancar, yang keluar dari tulang Shulbi atau tulang dada, yaitu dari tulang shulbi laki-laki (tulang punggung) dan tulang dada perempuan yang ada sebelah atas sesungguhnya ini merupakan rahasia tersembunyi dalam ilmu Allah yang tidak diketahui oleh manusia[11].

Ayat hanya memberitahukan kepada manusia, kemana sebenarnya tujuan manusia itu sendiri, apakah memilih untuk merugi dengan tidak mengindahkan keimanan dan Amal saleh??

  • Surah Al-Insyiqaaq ayat 6

$yg•ƒr’¯»tƒ ß`»|¡RM}$# y7¨RÎ) îyϊ%x. 4’n<Î) y7În/u‘ %[nô‰x. ÏmŠÉ)»n=ßJsù ÇÏÈ

Hai manusia yang memiliki keistimewaan “Kemanusiaan” mengapakah kamu tidak memilih untuk dirimu sesuatu yang sesuai dengan keistimewaan yang telah diberikan Allah kepadamu? Pilihlah keadaan untuk dirimu supaya bisa beristirahat dari kerja keras dan kelelahan ketika kamu bertemu dengannya[12]. Maksud kerja keras disini adalah kerja keras untuk menujua ridlo Allah SWT dengan memantapkan Iman dan beramal saleh sehingga Manusia jauh dari kerugian seperti yang dijelaskan dalam ayat diatas.

  • Surah Al-Infithaar ayat 6

$pkš‰r’¯»tƒ ß`»|¡RM}$# $tB x8¡xî y7În/tÎ/ ÉOƒÌx6ø9$# ÇÏÈ

Hai manusia yang telah dimulaiakan oleh tuhanmu, yang dipelihara dan dirawatnya dengan kemanusiaanmu yang mulia, tanggap dan luhur. Hai manusia, apakah yang memperdayakanmu terhadap tuhanmu, sehingga engkau tidak memenuhi hak-haknya, engkau abaikan perintahnya, dan engkau beradab yang buruk terhadapnya? Padahal, Dia adalah tuhamnmu yang maha pemurah yang telah mencurahkan kemurahan, karunia, dan kebaikan-Nya kepadamu.

  • Surah Ad-dhr/Al-Insaan ayat 1-2

Bukankah telah datang atas manusia satu waktu dari masa, sedang Dia ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut?

Telah ada kabar tentang penciptaan Manusia (Adam AS) dari waktu yang yang sangat panjang, yang keadaannya masih belum bisa dikatakan Manusia yang menjadi penciptaan Manusia pertama kali. Ada riwayat mengatakan bahwa proses penciptaan Manusia pertama adalah 40 tahun sebelum Ruh ditiupkan kedalamnya, Namun masih belum dikatakan apa-apa (Manusia) baik dikehidupan langit ataupun bumi pada saat itu, hanya berbentuk jasad dari tanah, yang tidak diketahui namanya, maka kemudian Allah meniupkan Ruh kedalam jasad itu, sehingga jasad yang dari tanah itu bisa disebut Manusia[13].

Ayat ini mengingatkan kembali kepada kita bahwa Manusia hanyalah jasad dari tanah yang tidak bisa apa-apa, hanyalah karena Anugrah Allah SWT manusia bisa mempunyai Nama, maka dari itu pantaskah Manusia memalingkan diri dari Allah SWT, dengan memilih untuk merugi tanpa membekeli diri manusia dengan Iman dan Amal saleh untuk kembali kepadanya.

Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur[14] yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu Kami jadikan Dia mendengar dan melihat.

Allah SWT menciptakan Manusia dengan sempurna yang berasal dari campuran-campuran, yaitu campuran[15] seperma tebal, putih dari laki-laki yang menjadi urat kekuatan dan tulang-tulang Manusia, dan seperma lembut (tipis) dan kuning dari perempuan yang menjadi daging, darah dan Rambut. Dan bercampur pula dalam diri Manusia kebaikan dan keburukan, maka dari itu jadilah Manusia dalam keadaan bisa mendengar dan melihat agar bisa mendengarkan dan melihat  ayat-ayat Allah SWT, sehingga mempunyai pegangan hidup yang jelas, mempunyai Iman dan bisa beramal saleh dan bermanfaat bagi kehidupan Manusia.

Daftar Pustaka

Muhammad Abdul Rasyid, Indeks Al-Quran A-Z, Jokjakarta, Chrisna Farmadiani, Cetakan Pertama April 2007

Nawawi, Muhammad. Tafsir Al-Munir. Dar-Al-Ihya Al-Kutub Al-‘Arab. Indonesia..

Sayyid Quthb, Tafsir Fi Zhilalil Quran, jakarta: Gema Insani Press, 2002

Buletin Ta’zhim As-Sunnah Edisi 12/IV/19 Rabi’ul Awwal 1431 H


[1] “Tafsiir Ibnu Katsir (14/451), dan berkata al Imam as Syaafi`ii rahimahullahu Ta`ala : “Kalau seandainya manusia mentadabbur surah ini (al `Ashr) akan mencukupi mereka

[2] “Shohih Muslim (54)”.

[3] Tafsir lafadz “Abasa watawalla”  dalam Tafsir FIZhilalil-Qur’an.

[4] Buletin Ta’zhim As-Sunnah Edisi 12/IV/19 Rabi’ul Awwal 1431 H

[5] Sayyid Qutub “Tafsir fi Dzilalil-Qur’an 24 hlm 232

[6] Sayyid Qutub “Tafsir fi Dzilalil-Qur’an 24 hlm 233

[7] “Sunan Ibnu Maajah (4032)”.

[8]Sayyid Qutub “ Tafsir fi Dzilalil-Qur’an” 24 hlm 186

[9] Sayyid Qutub “Tafsir fi Dzilalil-Qur’an” 24  hlm 186

[10] Sayyid Qutub “Tafsir fi Dzilalil-Qur’an” 24  hlm 190

[11] Sayyid Qutub “Tafsir fi dzilalil-Qur’an” 24  hlm 74

[12] Sayyid Qutub “Tafsir fi dzilalil-Qur’an” 24  hlm 52

[13] An-Nawawi “Tafsir Al-Munir” 2 hlam 416

[14] Maksudnya: bercampur antara benih lelaki dengan perempuan.

[15] Mujahid mengatakan seperma lelaki berwarna putih dan merah dan seperma perempuan berwarna hijau dan kuning.


[1] Maksudnya: menyeru kamu berperang untuk meninggikan kalimat Allah yang dapat membinasakan musuh serta menghidupkan Islam dan muslimin. juga berarti menyeru kamu kepada iman, petunjuk Jihad dan segala yang ada hubungannya dengan kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!